Hari selasa, Udin akhirnya bisa kembali bersekolah. Saat istirahat kedua baru dimulai, murid kelas XI IPS 1 ditahan dikelas. Udin dan Anji yang duduk bersebelahan malah sibuk bercerita.
“... terus setelah itu dia kerasukan sama arwah cicak yang tadi. Tiba-tiba dia manjat ke plafon terus boker di dukunnya.” Cerita Udin
“Hahaha, mampus tuh orang.”
Tiba-tiba datang seorang murid yang tadi diminta untuk mengawasi lorong.
“Mayday, mayday! Ternyata kita ditahan dikelas karena Pak Botak mau razia dadakan.” Katanya.
“Waduh rapikan baju dulu.” Kata Udin sambil merapikan bajunya.
“Woy, gundul!!! Itu rokok disepatu lu keliatan.” Kata Anji sambil menunjuk rokoknya.
“Waduh gawat nih, padahal ini mau dijual ke kakak kelas buat uang bulanan.”
“Mampus, lo. Di dropout terus jadi babunya dukun lagi lo.”
“Disembunyiin dilaci atau dibuang kayanya bakalan tetap ketahuan. Anji!”
“Wot?”
“Kita sahabat tersuper duper sepanjang alam semesta fiksional, kan?”
“Apaan sih, omongan lu gajelas?”
“Makanya rokoknya gapapa disembunyiin disini aja kan.” Kata Udin sambil memasukkan rokoknya ke mulut Anji.
Tiba-tiba datang Pak Arwana membuka pintu dan berteriak.
“Saya disini untuk merazia kalian wahai murid bermasa depan suram.”
“Hmm, mulai dari siapa, ya.? Ke si Udin dulu aah.” Kata Pak Arwana sambil mendekati Udin.
“Babi, pokoknya nanti gue bakalan balas lo!” pikir Anji.
“Hei, Udin. Kenapa rambutmu panjangnya 1 1 1. Kan harusnya 1 2 3.” Kata Pak Arwana sambil memeriksa Udin dari rambut ke jembut.
“Tapi pak, sekolah kita kan gaada aturan itu.” Kata Udin dengan gugup
“Wah selamat ya, kamu lolos razia otak. “
Saat Pak Arwana baru saja mau pergi, tiba-tiba dia perhatiannya terarah ke Anji.
“Anji, kamu lagi makan apa itu? Daritadi gak telan-telan.” Katanya sambil menunjuk Anji.
Anji tidak bisa membuka mulutnya karena takut ketahuan.
“Anji cepat katakan sesuatu!”
“Pak tolong jangan paksa Anji seperti itu.” Kata Udin untuk membela Anji.
“Udin kamu harus membersihkan halaman sekolah karena tidak masuk kemarin.”
Hukuman Pak Arwana membungkam Udin. Udin hanya bisa memohon kepada Anji dengan kontak mata.
“Kalau ketahuan gue juga tetap bilang ini punya lo, babi!” Pikir Anji
“Ayo Anji cepat keluarkan permennya, atau jangan-jangan itu bukan permen, benarkan Udin,” Kata Pak Arwana sambil menatap kedua murid tersebut dengan curiga.
Mereka berdua sangat gugup. Anji berusaha menutup mulutnya lebih keras.
“Buka cepat, saya jadi semakin penasaran!” Kata Pak Arwana sambil memegang kedua pundak Anji dan mengguncangnya.
Anji terlihat sedang menelan sesuatu karena guncangan itu.
“Rokoknya tertelan pak.” Katanya.
Anji pun segera dilarikan kerumah sakit. Tiba-tiba, Nugget yang merasakan keributan pun megecek kelasnya Udin. Ternyata dia benar, banyak siswa yang berkerumun didepan kelas XI IPS 1.
“Wahai para makhluk IPS, apa yang terjadi?” tanya Nugget.
“Njir, shyombong amat.” Kata seorang siswa.
“Tadi Anji dilarikan ke rumah sakit sama Pak Botak.” Kata seorang siswa lainnya.
Nugget melihat Udin dan menghampirinya.
“Babi, lo udah selesai ternyata jadi babunya.” Sapa Nugget
“Iya, gue sama Anji pas istirahat pertama nyariin lo tadi, buat balas dendam.”
“Terus katanya tadi Anji pergi kerumah sakit. Kenapa dia?”
“Yaah, sebenarnya...”
“Tunggu dulu biar gue tebak. Karena kebodohan lo dia ketahuan sama Pak Botak terus terjadi kecelakaan dan mengarah ke rumah sakit. Benar kan?”
“Kurang lebih begitu.”
“Hadeh yaudah, nanti gue temenin lo minta maaf.”
Saat kelas XI IPA 3 terkena razia, Nugget diciduk membawa Baigon dan surat wasiat.
Bersambung
Kejadian dalam cerita harus disikapi dengan baik dan jangan ditiru!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar