Kamis, 04 Juni 2020

5.) Kasus Pencurian

            Ternyata Anji diam saja dan fokus makan. Tapi grup cewek itu gosipnya makin parah.

“ Kita ajak kenalan yuk!”

“ Eh, jangan ganggu, mereka lagi berduaan gitu! Jangan-jangan...”

“ Agak gimana gitu ya? Biasanya kan cowok tuh jalan berduaan sama cewek.”

            Anji dan Nugget pun tidak kuat lagi untuk makan. Anji pun mengajak Nugget untuk berdiskusi.

“ Nugget, kita harus cari cara untuk membuat mereka pergi.”

“ Kayak gimana?”

“ Gatau lah pokoknya mikir dulu.”

            Mereka berdua memasuki mode sanin. Nugget pun mendapatkan pencerahan.

“ Aku ada ide. Pokoknya bakalan ku buat mereka jijik sama gue terus nanti mereka pergi.”

            Nugget menghampiri grup cewek itu, berpose keren/cringe[1] dan berkata:

“ Cewek, maukah kalian bersanding denganku di pelaminan.”

“ Kyaaa!! Mau mas.”

“ Lah, kok rencana gue gagal ya. Waduh, harus kabur nih.” Pikir Nugget

“ Ah, bentar dompetku ketinggalan.” Kata Nugget sambil berlari keluar.

“ Tunggu mas, cincinnya mana mas? Tanggung jawab nih, sama perasaan kami!”

            Grup cewek itu mengejar Nugget. Anji pun bisa menghabisi makanannya dengan tenang.

“ Nih bang uangnya.” Kata Anji sambil membayar abang pegawai MangDonald.

            Tiba-tiba HP Anji berdering.

“ Halo, ini kalau telepon terus nanti gue blokir loh.”

“ Ini gue Nugget woy. Dimana lo sih?”

“ Masih di MangDonald. Elo sih tiba-tiba kabur gitu.”

“ Ini karena lo ga tolongin bambank.”

“ Terus, dimana kamu sekarang?”

“ Gue lagi ada dirumah lo nih, gue mau nonton koleksi hand-tie lo.”

“ Eh, Jangan woy!!”

            Panggilan tertutup

“ Waduh gawat nih. Bang gue cabut pulang dulu.” Kata Anji sambil berlari keluar

“ Eh tunggu uangnya...”

“ Ambil aja kembaliannya.”

“ Uangnya kurang. Aduh nasib nih, karena melayani anaq jahanam.”

            Besoknya, di sekolah. Saat istirahat kedua, Udin sedang berdagang untuk mendapatkan uang bulanannya yang tiba-tiba hangus. Anji sedang menjalankan hobinya di WC yaitu menghabiskan tisu dan memainkan sabun. Sedangkan, Nugget lagi memikirkan cara untuk membuat orang lain lebih menderita bersyukur dalam menjalani hidup.

            Seperti biasa, Nugget sedang menikmati semangkuk bakso di kantin bersama dengan budak- maksudku temannya: Steve, Angga dan Deva. Tapi karena Nugget adalah orang yang luar biasa, tiba-tiba saja dia dipanggil oleh guru. Saat perhatiannya kembali teralih menuju mangkuk baksonya tiba-tiba, mangkuknya kosong! Sebuah kejahatan besar telah terjadi dihadapannya, tapi dia tidak menyadarinya. Tapi yang dia tahu adalah:

“ Pelakunya pasti salah satu dari kalian, kan.”

            Angga pun langsung berkata:

“ Hah, ngaco lu. Ngapai-“

“ Ayo ngaku saja kalian! Nanti hukumannya bakalan ringan.”

            Steve mulai menuduh orang.

“ Ini pasti perbuatan Deva, soalnya dia yang duduk disebelahmu.”

            Deva langsung menyangkal.

“ Ngapain lo langsung nuduh-nuduh orang tapi gapunya bukti yang kuat. Yang paling mencurigakan itu kamu. Kan kamu yang biasanya paling rakus.”

            Protagonis kita pun mulai kebingungan, semua tersangka terlihat mencurigakan. Dia pun tahu untuk memecahkan kasus ini dia perlu menginterogasi tersangka. Target pertamanya adalah Steve.

“ Steve, pas aku dipanggil guru apakah kau melihat siapa yang menyedot habis bakso ku.”

“ Se-se, sebenarnya saat itu aku sedang memikirkan tentang cara untuk menyingkirkan tahilalats yang ada didalam HP-ku.”

“ Hmmm. Deva apa ada sesuatu yang kaulihat?”

“ Sorry. Aku tadi lagi melamun terus gak liat apa-apa.”

“ Angga kau pasti melihat sesuatu kan.”

“ Gue cuman liat lalat masuk ke mulut Deva pas dia melamun, habis itu ga ada yang lain lagi.”

            Kebohongan mereka terlihat jelas di pandangan Nugget yang paranoid[2]. Karena tidak bisa membuat tersangka membuka mulut maka Nugget harus mencari saksi mata. Dia pun mulai menginterogasi berbagai orang yang bahkan tidak ada di kantin saat itu. Tapi ternyata yang Nugget dapatkan hanyalah jalan buntu.

            Saat pulang sekolah, Nugget bertemu dengan Udin.

“ Oy, beruk. Kenapa mukamu cemberut gitu.”

“ Sebenarnya tadi terjadi sebuah kasus pencolongan bakso,”

“ Apa? Orang waras seperti apa yang melakukan hal sekeji itu?!”

“ Makanya harus ada yang menegakkan keadilan, agar kejadian mengerikan seperti ini tidak terjadi pada orang lain. Pokoknya saat kutemukan pelakunya, bakalan kubuat dia semiskin kamu.”

 “ Oke, gue bakalan bantu. Tapi harus ada DP.”

“ Baiklah, mulai sekarang kita adalah: Detektif Upil dan Ipil.”

            Setelah mereka berdua berpose keren, Udin/Upil mengajukan usul:

“ Ipil saya punya saran.”

“ Katakan Upil!”

“ Bagaimana kalau kita minta bantuan dukun saja untuk mencari pelakunya?”

“ Oke, lebih simpel sih.”

            Detektif Upil dan Ipil pun segera berangkat ke rumah dukun dengan menggunakan bajaj bajakan.

            Bersambung                    

Kejadian dalam cerita harus disikapi dengan baik dan jangan ditiru!



[1] Cringe = bikin jijik

[2] Paranoid = curiga berlebihan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar