Pada keesokan harinya, Anji yang habis dirawat dirumah sakit langsung dipulangkan karena Pak Arwana tidak punya uang untuk rawat inap. Dokter merekomendasikan Anji untuk tidak pergi keluyuran untuk sementara waktu.
Sementara itu, Udin dan Nugget yang baru saja pulang dari sekolah, datang untuk menjenguk Anji.
“ Punten[1], Go jet. Ada orang gak?” Kata Nugget sambil mengetuk pintu.
Tidak ada orang yang menjawab.
“ Kayaknya ga ada.” Kata Udin.
“ Pasti ada. Gue tahu kalau dia ada dirumah.“
“ Woy panci, temen lo datang mau ngebully!” Teriak Nugget sambil mendobrak pintu itu.
“ Woy, sopan lo yang tadi mana sih?”
“ Memangnya lo sopan, hah?”
“ Betul juga sih.”
“ Pokoknya dari kasus kejadian kemarin harus ada yang menegakkan keadilan. Karena tidak ada keadilan tanpa hukuman.”
“ Lo cuman mau ngeliat gue dihukum, anying.”
Mereka berdua pun masuk kerumah itu dan berjalan menuju pintu kamar Anji.
“ Oni-chan, boleh masuk gak?” Kata Nugget sambil mengetuk pintu.
Tidak ada suara yang keluar dari kamar itu. Udin pun mengajak Nugget untuk pergi.
“Tydack[2] ada orang. Palingan kita ditipu sama Pak Botak. Per-“
“ FBI OPEN UP!” Kata Nugget sambil mendobrak pintu, lagi.
Nugget melihat kasur dengan selimut yang menonjol.
“ Wah apa ini? Ada yang menonjol tapi bukan bakat.”
Dia mendekati selimut itu dan membukanya.
“ Oh, tidur toh.”
Udin merasa lega dan bilang:
“ Sudah-sudah jangan ganggu, bia-“
Tiba-tiba Anji terbangun.
“ Suprise!!!” Katanya sambil menonjok bola Udin.
Teriakkan Udin sangat berfrekuensi tinggi sampai-sampai tidak terdengar lagi oleh manusia. Udin pun ambruk karena tidak bisa menahan rasa sakitnya. Anji menunjukkan wajah puasnya dan berkata:
“ Hahaha, akhirnya bisa balas budi setelah masuk RS.”
“ Oy kalian berdua janjian buat ngerjain gue, ya. “ Kata Udin sambil memegang bolanya.
“ Anji, ni ada Hindomi yang tadi kami beli di alfamelarat.” Kata Nugget sambil memberikan Anji bungkus plastik yang berisi Hindomi rasa batang panggang.
Udin dikacangin[3].
“ Wah, Terima Kasih ya. Syukur punya teman yang gak pengertian dan tidak tahu kalau orang sakit ga boleh banyakan micin.”
“ Sama-sama. Emangnya kamu masih sakit.”
“ Sudah ngga sih. Tapi kata dokter otakku lebih kecil 20% dari remaja pada umumnya.”
“ Kalau itu kayaknya gara-gara dosamu numpuk dikepala, terus otaknya menciut karena ga ada ruang.”
“ Sembarangan aja. Sekarang gue lagi malas makan Hindomi. Lebih baik kita makan di MangDonald aja, gue yang traktir.”
Anji memungut dompet Udin yang tadi terjatuh.
“ Do-dompet gue. Tolonglah jangan ambil dompet gue! TIDAK!!!” Kata Udin.
Udin ter-ignore[4]. Mereka berdua langsung pergi ke MangDonald. Sesampainya disana...
“ apa pesan mau, Mangdonald di datang Selamat.“ kata pegawai MangDonald.
“ Mau pesan apa, Nugget?” Tanya Anji.
“ Nggg, kamu aja yang pilih, aku cari tempat duduk.”
“ Oke, Semua menu satu bang.”
“ Rakus amat sih lo.”
“ Sama-sama bang.”
Saat Anji dan Nugget sedang menikmati makanan mereka, tiba-tiba grup cewek yang duduk disebelah mereka bergosip sampai kedengaran satu ruangan.
“ Eh sis, kalian tahu gak. Si itu katanya kemarin gitu-gituan sama si dia.“
“ Hah, serius. Kan katanya si itu dan dia sudah putus.”
“ Iya sumpah beneran serius gw gak bo’ong. Gw ada videonya ni.”
Mohon maaf para pembaca, video itu tidak pantas untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Hanya suara dari video itu membuat Anji dan Nugget tidak selera makan.
“ Wah gila gila gilak. Keras banget suara dia.”
“ Terus juga katanya ini bukan pertama kalinya si itu gitu-gituan.”
“ Hah, yang bener aja lo. Gila amat si itu.”
“ Hei liat! Ganteng tu cowok disebelah kita.”
“ Mana?”
“ Tu nah, yang rambutnya pirang.”
“ Ada dua tuh yang rambutnya pirang.”
“ Yang rambutnya pirang merah itu palingan disemir aja, biasa orang Indo. Tapi liat tuh didekat jendela yang pirang kuning. Cakep banget, mirip bule gitu. Gemes ngeliatnya.”
“ Wah bener ya. Tapi yang duduk sama dia kok mukanya mirip panci gitu. Jijik ngeliatnya.”
Anji pun menjadi semakin kesal. Apa yang akan Anji lakukan?
Bersambung
Kejadian dalam cerita harus disikapi dengan baik dan jangan ditiru!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar